Setelah raja S’ri Kerta-negara gugur, kerajaan Singhasa-ri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasa-ri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja Singha-sa-ri pertama dan anak dari Dyah Lembu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Kertana-gara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Na-garakerta-gama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Kertana-gara dinikahinya semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasa-ri, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang diderita Singhasa-ri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberi sebuah daerah di hutan Terik untuk dibuka menjadi desa, dengan dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama Majapahit. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden Wijaya bila saatnya diperlukan. Rupaya ia pun kurang menyukai raja Jayakatwang. Tidak terduga sebelumnya bahwa pada tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Singhasa-ri atas penghinaan yang pernah diterima utusannya pada tahun 1289. Pasukan berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju ke Daha. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan sukacita. Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina dan Raden Wijaya berhasil membinasakan tentara Daha. Dengan kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di dalam benteng. Sore hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha, Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian ditawan oleh pasukan Cina. Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan. Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. Bahkan ia berbalik memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, selebihnya melarikan dari keluar Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan Majapahit. Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar S’ri Kertara-jasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar S’ri Parames’wari Dyah Dewi Tribhu-wanes’wari, S’ri Maha-dewi Dyah Dewi Narendraduhita-, S’ri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnya-paramita-, dan S’ri Ra-jendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari Tribhu-wanes’wari ia memperoleh seorang anak laki bernama Jayanagara sebagai putera mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhu-wanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana Kahuripan dan Ra-jadewi Maha-ra-jasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalagemet. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar dewa’ dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera. Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kertana-gara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, S’rimat Tribhu-wanara-ja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasa-ri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya. Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayana-gara. Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayana-gara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayana-gara juga terpengaruh oleh hasutan Maha-pati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang demikian muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama Gajah Mada. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal raja bekel bhayangka-ri. Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri kerajaan. Pada masa Jayana-gara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayana-gara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada. Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayana-gara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu. Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sadeng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak pada pihak Majapahit. Setelah persitiwa ini, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti Gurun di Kalimantan, Seran ?, Tanjungpura Kalimantan, Haru Maluku?, Pahang Malaysia, Dompo Sumbawa, Bali, Sunda Jawa Barat, Palembang Sumatera, dan Tumasik Singapura. Untuk membuktikan sumpahnya, pada tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan. Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singha-sari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar S’ri Rajasana-gara. Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhu-mi maha-patih yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah peperangan yang dikenal dengan peristiwa Bubat, yaitu ketika rencana pernikahan antara Dyah Pitaloka-, puteri raja Pajajaran, dengan Hayam Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitaloka- bunuh diri yang menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi ke Dompo Padompo dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala. Setelah peristiwa Bubat, Maha-patih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pa-duka S’ori, anak dari Bhre Wengker yang masih terhitung bibinya. Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Maha-patih Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhu-mi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya. Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhu-mi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapel ikut campur membantu pihak Suhita. Bhre Wirabhu-mi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhu-mi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut. Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar S’ri Ra-jasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan. Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Su-ryawikrama Giris’awardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecambuk. Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhu-mi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singha-sari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam. Ironisnya, pertikaian keluarga dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa. Sumber Disarikan dari Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, 1984, halaman 420-445, terbitan PP Balai Pustaka, Jakarta
SandyakalaRajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini. Tentang Penulis
Kerajaan Majapahit merupakan satu di antara beberapa kerajaan dengan corak Hindu-Budha yang pernah berkuasa dan menjadi bagian penting dari sejarah nusantara. Kata nusantara mengacu pada kawasan yang meliputi gugusan pulau yang terdapat di antara benua Asia dan Australia serta Semenanjung Malaya. Dalam sejarah Kerajaan Majapahit tercatat sebagai kerajaan Hindu terbesar yang pernah menguasai nusantara. Sejarah juga mencatat bahwa kerajaan Majapahit menjadi kerajaan dengan corak Hindu-Budha terakhir yang menguasai nusantara. Wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, sebagian Kalimantan, hingga beberapa wilayah Indonesia timur. Sumber sejarah kerajaan majapahit berasal dari kitab Pararaton, Negarakertagama, Sundayana, dan Usaha Jawa. Pujangga Majapahit yang dikethaui menulis kitab Negarakertagama adalah Mpu Prapanca. Sejarah Kerajaan Majapahit mencatat pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya yang sekaligus sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit. Puncak kejayaan dalam sejarah Kerajaan Majapahit berada pada masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Dalam Sejarah kerajaan Majapahit Pahit terdapat seorang patih yang terkenal akan jasanya dalam mempersatukan daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama patih yang patih tersebut adalah Gadjah Mada. Sejarah Kerajaan Majapahit memiliki hubungan yang dekat dengan sejarah lahirnya nusantara. Bagaimana awal berdirinya sejarah Kerajaan Majapahit? Apa saja hal penting yang terdapat dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit? Bagaimana akhir sejarah Kerajaan Majaphit? Faktor-faktor apa saja yang membuat runtuhnya kerajaan majapahit? Sobat idschool dapat mencari tahu ringkasan singkat kerajaan Majapahit melalui ulasan di bawah. Table of Contents Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit Masa Pra Sejarah Kerajaan Majapahit Cikal Bakal Berdirinya Sejarah Kerajaan Majapahit Masa Sejarah Kerajaan Majapahit Raja Raden Wijaya 1293 – 1309 Raja Jayanegara 1309 – 1328 Ratu Tribhuwana Tunggadewi 1328 – 1350 Raja Hayam Wuruk 1350 – 1389 Raja Wikramawardhana 1389 – 1429 dan Setelahnya Runtuhnya Kerajaan Majaphit Baca Juga Tradisi Baritan – Kebudayaan Indonesia Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit Awal sejarah kerajaan Majapahit berkaitan dengan adanya pemberontakan Jayakatwang dari kerajaan Kediri ke Kerajaan Singosari. Pada waktu itu, Kerajaan Singosari berada di bawah pimpinan Raja Kertanegara. Menghadapi serangan tersebut, Kartanegara memerintahkan Raden Wijaya untuk memimpin pasukan dalam melawan serangan Jayakatwang. Raden Wijaya berhasil menaklukan pasukan Jayakatwang yang menyerang dari arah utara Singosari dan berhasil memukul mundur musuh. Namun, pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan menewaskan Kertanagara. Terbunuhnya Kertanegara dari kerajaan Singasari inilah yang kemudian menjadi awal cerita didirikannya kerajaan Majapahit. Masa Pra Sejarah Kerajaan Majapahit Singasari merupakan kerajaan paling kuat di Jawa pada waktu itu. Kondisi tersebut menjadi perhatian Kubilai Khan penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok untuk menuntut upeti dan mengirim utusan bernama Meng Chi ke Kerajaan Singosari. Raja Kertanagara menolak membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajah dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa. Nantinya, pasukan yang dikirimkan Kubilai Khan akan menjadi sekutu Raden Wijaya dalam menaklukan Jayakatwang. Menyambung cerita sebelumnya, kekelahan Kerajaan Singasari dalam mempertahankan kekuasaan membuat Raden Wijaya harus melarikan diri karena terus mendapat desakan dari musuh. Raden Wijaya melarikan diri ke Madura dan menemui seorang Adipati bernama Aria Wiraraja untuk meminta pertolongan. Aria Wiraraja menyarakan untuk pura-pura menyerah kepada Jayakatwang agar mendapat kepercayaan. Setelah Jayakatwang percaya, Raden Wijaya meminta sebuah wilayah di daerah Tarik yang akan digunakan sebagai pertahanan dari musuh. Cikal Bakal Berdirinya Sejarah Kerajaan Majapahit Raden Wijaya dengan bantuan Aria Wiraraja membuka daerah Tarik berupa hutan menjadi sebuah daerah bernama Majapahit. Nama Majapahit berasal dari banyaknya buah pohon maja yang rasanya pahit di daerah tersebut, penggabungan dua kata tersebut menjadi nama Majapahit. Daerah inilah yang nantinya menjadi tempat awal bagi Raden Wijaya dan pengikutnya untuk mendirikan kerajaan Majapahit. Raden Wijaya secara diam-diam mengumpulkan pengikut dan membentuk kekuatan untuk membalas Jayakatwang. Pasukan yang dikirimkan Kubilai Khan sampai di Pulau Jawa. Pada awalnya, pasukan tersebut hendak membalas perbuatan Raja Kertanegara. Namun, pada waktu itu Raja Kertanegara sudah terbunuh oleh Jayakatwang dan pemerintahan sudah berubah. Raden Wijaya memanfaatkan kondisi tersebut dengan berjanji akan menyerah kepada pasukan Mongol setelah mengalahkan Jayaktwang. Akhirnya, Raden Wijaya dan pasukan Mongol menjadi sekutu dan berhasil mengalahkan Jayakatwang. Raden Wijaya tidak menepati janjinya kepada pasukan Mongul, malah berhasil mengusir pasukan Mongol dari Pulau Jawa. Raden Wijaya selanjutnya mulai mendirikan dan membangun kerjaan Majaphit sekaligus menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Baca Juga Sejarah Lahirnya Pancasila Daerah pemberian Jayakatwang tersebut menjadi awal cerita dari Kerajaan Majapahit. Majapahit berkembang menjadi kerajaan besar, bahkan tercatat sebagai kerajaan Hindu terbesar yang pernah menguasai nusantara. Pusat kerajaan Majapahit diperkirakan berada di daerah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Kerajaan Majapahit berkuasa sekitar tahun 1293 hingga 1500 M di bawah pimpinan beberapa raja. Beberapa sejarah kepemimpinan raja-raja kerajaan Majapahit dapat disimak melalui ulasan di bawah. Raja Raden Wijaya 1293 – 1309 Setelah berhasil mengusir pasukan Kubilai Khan pada tahun 1293, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertajasa Jayawardhana. Beberapa upaya dilakukan Raden Wijaya untuk membentuk pemerintahan yang kuat, salah satunya adalah membangun Majapahit sebagai pusat pemerintahan. Cara lain yang juga dilakukan oleh Raden Wijaya adalah mengawini empat putri raja Kertanegara. Selain itu, Raden Wijaya juga memberi kekuasaan kepada para sahabat dan pengikutnya. Meskipun begitu, beberapa orang kepercayaan Kertarajasa tidak puas dan melakukan pemberontakan. Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak dan melawannya meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Pemberontakan tersebut disebutkan dalam kitab Pararaton. Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309, kemudian kepemimpinan kerajaan Majapahit jatuh kepada putranya Jayanegara. Raja Jayanegara 1309 – 1328 Sepeninggal Kertajasa, putra Raden Wijaya yang bernama Jayanegara yang menjadi raja. Jayanegara menjadi raja di usia yang sangat muda yaitu 15 tahun. Pararaton menyebutnya sebagai Kala Gemet yang berarti penjahat lemah. Pemberontakan juga muncul pada masa pemerintahan Jayanegara karena Jayanegara adalah raja yang lemah. Namun, Gajah Mada berhasil memimpin pasukan Bhayangkari untuk menghentikan pemberontakan tersebut. Atas jasanya, Gajah Mada menjadi patih Kahuripan. Raja Jayanegara terbunuh oleh seorang tabib kerajaan bernama Tanca pada tahun 1328. Selanjutnya, kepemimpinan Kerajaan Majapahit beralih ke adiknya yang bernama Tribhuwana Wijaya Tunggadewi. Ratu Tribhuwana Tunggadewi 1328 – 1350 Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi juga tidak berjalan mulus dan terjadi pemberontakan. Pemberontakan tersebut dapat dihentikan oleh Gajah Mada . Atas jasanya, Tribhuwana Tunggadewi menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit pada tahun 1336. Pada saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Sumpah Palapa dalam kitab Pararaton berbunyi Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya baru akan melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya baru akan melepaskan puasa”. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai tahun 1350 yang kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Hayam Wuruk. Raja Hayam Wuruk 1350 – 1389 Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara mulai tahun 1350. Pada masa kekuasaan Hayam Wuruk bersama dengan mahapatih Gajah Mada, sejarah kerajaan Majapahit dapat mencapai puncak kejayaan. Gajah Mada mampu mengaplikasikan sumpah Amukti Palapanya sehingga menjadikannya patih yang paling disegani di Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Rajasanegara, daerah kekuasaan kerajaan Majapahit hampir meliputi seluruh Nusantara dan berkembang menjadi kerajaan martim sekaligus agraris. Namun, kerajaan Pajajaran Sunda belum berhasil dikuasai kerajaan Majapahit. Sebagai upaya menguasai kerajaan Pajajaran, Gajah Mada melakukan politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Bubat. Peristiwa Bubat terjadi karena Hayam Wuruk berniat menikahi putri raja Pajajaran yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Namun rencana tersebut dijadikan sebagai upaya Gajah Mada untuk merebut kekuasan Kerajaan Pajajaran. Cara tersebut membuat raja Kerajaan Pajajaran murka sehingga terjadilah peperangan yang menyebabkan raja dan pasukan Pajajaran terbunuh. Dyah Pitaloka kemudian melakukan bunuh diri demi menjaga kehormatan kerajaannya. Pada tahun 1364, Gajah Mada meninggal yang sangat berpengaruh pada kondisi kerajaan. Meninggalnya Gajah Mada membuat pemerintahan Hayam Wuruk mengalami kemunduran. Pada tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal yang kemudian digantikan oleh Wikramawardhana. Raja Wikramawardhana 1389 – 1429 dan Setelahnya Kondisi politik Majapahit diwarnai oleh Perang Paregreg pada masa kepemimpinan raja Wikramawardhana. Perang Paregreg adalah perang saudara antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi. Setelah Wikrawardhana, beberapa nama yang mendudukan tahta raja kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut. Suhita Dyah Ayu Kencana Wungu 1429 – 1447 Kertawijaya Brawijaya I 1447 – 1451 Rajasawardhana Brawijaya II 1451 – 1453 Purwawisesa atau Girishawardhana Brawijaya III 1456 – 1466 Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa Brawijaya IV 1466 – 1468 Bhre Kertabumi Brawijaya V 1468 – 1478 Girindrawardhana Brawijaya VI 1478 – 1498 Patih Udara 1498 – 1518 Perang Paregreg terus berkelanjutan dan menyebabkan kekuasaan Majapahit melemah. Pudarnya kekuasaan Majapahit membuat banyak daerah kekuasaannya melepaskan diri, sampai pada akhirnya kerajaan Majapahit runtuh. Baca Juga Isi Tritura dan Latar Belakang yang Melandasinya – Sejarah Politik Indonesia Runtuhnya Kerajaan Majaphit Sejarah mencatat runtuhnya kerajaan Majapahit dalam dua pendapat. Pertama, Majapahit runtuh tahun 1478 ketika Girindrawardhana memisahkan diri dari Majapahit dan menamakan dirinya sebagai Raja Wilwatikta Daha Janggala Kediri. Kedua, Majapahit runtuh karena serangan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Adipati Unus tahun 1522. Beberapa poin faktor-faktor penyebab kemunduran atau runtuhnya kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut. Tidak ada tokoh yang cakap memerintah sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada Terjadi perang saudara antara Bhre Wirabumi dengan Kusumawardani Perang Paregreg Banyak daerah kekuasaan kerajaan Majaphit yang melepaskan diri Perkembangan kerajaan perdagangan baru yaitu Kerajaan Islam Malaka Runtuhnya kerajaan ini menjadi akhir sejarah kerajaan Majapahit yang keberadaannya mempunyai keeratan dengan nusantara. Beberapa catatan penting dalam sejarah Kerajaan Majapahit secara ringkas terdapat pada tabel berikut. Demikianlah tadi ulasan materi ringkasan singkat sejarah Kerajaan Majapahit. Terima kasih sudah mengunjungi idschooldotnet, semoga bermanfaat! Baca Juga Penjelasan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Runtuhnya Kerajaan Majapahit
SandyakalaRajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini. Tentang Penulis Menulis dan berkhayal menjadi satu-satunya pekerjaan yang digelutinya. Melalui menulis itulah ia menghidupi keluarganya.
Untuk memimpin tanah seluas Nusantara ini diperlukan seorang kesatria yang berwibawa, bermartabat. Punya harga diri, dan mempunyai keberanian laksana seekor singa. Kesatria itu harus tak tergoyah karena mempunyai penyangga yang kuat. Jalan Tengan Beruas Delapan, itulah penyangganya yang terdiri dari pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan bersemadi benar. Setyo Wardoyo via Kertanegara, The Rise of Majapahit Arok Dedes membangkitkan minat saya kembali untuk menyusuri sejarah Dinasti Rajasa. Tapi selepas Arok Dedes, saya kok rada males langsung lompat ke Gajah Mada. Lah, jauh bener! Pengennya baca selanjutnya sih masa pemerintahan Anusapati, Tohjaya, lalu Ranggawuni dan Mahisa Cempaka gitu. Tapi saya gak nemuin novel yang mengisahkan tentang masa-masa mereka. Sekedar mengingatkan, urutan para raja dari Dinasti Rajasa pada masa Singasari sebagai berikut Kisah selanjutnya yang saya temukan adalah masa akhir pemerintahan Prabu Kertanegara. Ini tentunya buku-buku karya pengarang yang agak-agak baruan, ya.. Kalo buku-buku cerita silat jaman-jaman bacaannya ayah saya kayak Ko Ping Ho mah saya angkat tangan dulu, dah! Belum sanggup bacanya soalnya baru buka buku aja muka kok gatel-gatel, ya? Kenapa saya menulis The Rise of Majapahit duluan? Well, soalnya saya dapetin buku ini duluan, sederhana saja. Karena sebenarnya saya membelinya pada hari yang sama. Namun karena yang satu saya beli dalam bentuk ebook sementara yang satu lagi saya membelinya online dari sebuah toko buku di pulau Sumatera. Maka, ya, jelas mana yang duluan yang saya baca. The Rise of Majapahit Jika kita lemah maka kekayaan kita akan berpindah tangan ke negeri lain. Bisa serentak atau perlahan-lahan secara halus dan tidak terasa! Yang paling celaka adalah apabila negeri lain bekerjasama dengan orang kita sendiri. Orang yang demikian adalah penghianat negeri. Kepalanya layak dipenggal! Kisah diawali dengan datangnya Laksamana Meng Khi, utusan Khubilai Khan dari Mongolia yang belum apa-apa sudah bikin Prabu Kertanegara kesal. Pasalnya dia datang dengan tanpa pemberitahuan dan ingin segera bertemu. Saat menghadap, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya membuat ruangan hening. Salam Hormat Raja Sri Kertanegara yang agung. Kami adalah utusan Yang Mulia Kaisar Kubilai Khan dari Mongolia yang menguasai jagat raya ini.’ Gila, menguasai jagat raya, cuuuy! Kebayang, gak, sih? Saya aja sewot banget rasanya ngebayangin itu si Meng Khi ngoceh. Lah pagimane Kertanegara? Mana isi suratnya tambah nyebelin. Yang Mulia Prabu Sri Kertanegara. Kami dari kekaisaran Mongolia yang menguasai seluruh jagat raya ini memerintahkan kepada Yang Mulia beserta seluruh rakyat negeri Singosari untuk segera mengirimkan seorang pangeran ke negeri kami menyampaikan pernyataan tunduk dan mengirimkan upeti senilai 60 ribu tahil emas setiap tahun sebagai tanda takluk dan mengakui kekuasaan Kekaisaran Mongolia Beuh! Raja Kertanegara di buku ini orangnya angker, men! Saya suka saya suka! Gak banyak ngomong walaupun beliau murka. Dengan terlihat tenang beliau bangkit dari damparnya singgasana dan melangkah mendekati Meng Khi. Menurut penulisnya, langkahnya ini seakan melayang lalu semakin lama semakin lebar dan mulai terdengar tapak kakinya. Aroma rempah menyibak dari tubuhnya yang terhembus udara. Semakin dekat langkahnya, tangan Kertanegara mulai memegang keris dari pinggangnya yang pas ditarik, bau warangan arsenic tercium tajam. Tapi, terlambat. Saat Meng Khi sadar, keris di tangan kanan Kertanegara sudah menyabet dan memutus telinganya. Langsung diusir itu Meng Khi! Kubilai Khan menganggap ini sebagai penghinaan dan segera bersiap-siap untuk menginvasi Jawa. Singasari yang dalam keadaan lemah saat sebagian besar armadanya dikirim untuk Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera masih harus digrecoki oleh pemberontakan Gelang-Gelang, sebuah kerajaan bawahan yang pada saat itu dipimpin oleh Prabu Jayakatwang. Nah, hubungan antara Jayakatwang pada Kertanegara ini ruwet pisan! Yah, walaupun gak seruwet jalanan ibukota negara Indonesia. Jayakatwang Jayakatwang sebenarnya itu ipar tapi juga sekaligus besan dari Kertanegara. Tapiii, leluhurnya Jayakatwang yaitu Prabu Kertajaya dulu dikalahin sama leluhurnya Kertanegara yaitu Arok. Jayakatwang gak bisa move on dari itu. Kalo di buku Sendyakala Rajawangsa, bukan Cuma Jayakatwang, seluruh warga Gelang-Gelang belum move on dari itu! Sesuai dengan kisah yang ada buku-buku sejarah kalau Anda ingat pelajaran di buku sejarah jaman sekolah dulu yang sama sekali gak seru itu Jayakatwang menyerbu Singasari. Istana dikeroyok pasukan Gelang-Gelang! Satu persatu Bhayangkara dan perwira tewas. Kertanegara tentunya melawan dan menolak untuk menyerah sampai jatuh bersimbah darah dan menghambuskan nafas terakhir. Puteri-puteri Kertanegara pun bertarung sebisa mereka. Waduh, pikiran saya tentang puteri raja yang cantik lemah lembut senantiasa luluran dan menari itu langsung buyar rasanya pas baca adegan Princess Tribhuaneswari lompat sejarak tombak tepat diatas pedang demi melindungi adik-adiknya. Kalungnya putus kena sabet pedang yang kalo dia gak cepat, yaudah lehernya yang putus. Di saat yang sama, cundrik keris kecil beracun di tangannya menyobek perut prajurit Gelang-Gelang. Beuh, Tribuaneswari meni edan-edanan menyelamatkan dirinya dan adik-adiknya untuk keluar dari istana. Tapi begitu ketemu suaminya, langsung lemes dan dibimbing untuk naik kuda. Eh? Gimana tadi? Gayatri yang dalam pikiran saya selalu botak…maksudnya udah jadi biksu yang sangaaaaat bijaksana, kali ini wujudnya masih muda dan seorang kutubuku garis keras! Bayangin aja, dia murka minta ampun saat denger keributan diluar yang mengganggunya baca Tak tega ketenangannya membaca terganggu, cundrik beracun di tangan kanannya merobek pipi kiri prajurit Gelang-Gelang yang akan menangkapnya. Gerakan kedua cundrik itu menancap di perut musuhnya hingga roboh halaman 98 Yaaa, saya juga sih suka kesel banget kalo lagi asik baca diganggu orang. Tapi gak sampai segitunya juga! Sabar, ya, Mbak. Sabar. Emang orang Gelang-Gelang suka gitu. Untung dia nantinya jadi istri raja. Coba kalo jadi PNS kerja di perpustakaan SD. Bisa abis anak-anak sama dia. Singasari runtuh. Raden Wijaya, yang merupakan pewaris tahta sekaligus menantu Kertanegara berhasil melarikan diri bersama Thribuaneswari, permaisurinya. Mereka bersama para prajurit yang setia pun menyusun rencana untuk merebut kembali tahta Singasari. Majapahit Sandyakala Rajawangsa Cerita diawali dengan tibanya rombongan Patih Raganata, Raden Wijaya, dan Gayatri di wilayah kerajaan Kediri Gelang-Gelang. Sebenarnya ini adalah rombongan yang diutus oleh Prabu Kertanegara untuk nglanglang. Pasalnya di pasewakan, Prabu kertanegara selalu mendapatkan laporan dari para penguasa wilayah bahwa seluruh rakyat dalam keadaan sejahtera dan tentram. Maka untuk memastikannya, Sang Prabu mengirim pasukannya untuk mencaritahu kebenaran berita tersebut. Dan memang kenyataannya, apa yang dilaporkan para penguasa wilayah tidak sepenuhnya benar. Rakyat kebanyakan dalam keadaan miskin dan itu pun diperparah dengan berbagai perampokan yang terjadi di sana sini. Namun apa yang Raden Wijaya temukan di Kediri jauh lebih meresahkan hati. Beberapa hal membuat Raden Wijaya dan Patih Raganata mencurigai bahwa saat ini Kediri sedang dalam persiapan untuk melakukan makar terhadap Singasari. Sementara itu, bagi Gusti Putri Gayatri, yang meresahkan justru karena dia menemukan bahwa adik bungsunya, Gusti Putri Narendradewi yang dinikahi oleh Ardaraja putera Jayakatwang dalam keadaan tersiksa di istana Kediri. Tidak hanya suaminya yang ternyata suka menghajarnya, namun juga seluruh kerabat istana ikut menyiksanya secara psikis dan emosional. Pada saat itu Gayatri dengan tegas memutuskan untuk membawa pulang Narendradewi kembali ke istana Singasari. Sementara itu di Singasari, Prabu Kertanegara sedang galau. Pasalnya Wiswarupa Kumara, puteranya satu-satunya, menolak tahta karena ingin menjadi biksu. *** Nusantara harus kuat dan bersatu untuk melawan kekuatan dari utara yang ingin menguasainya dan juga negeri lain yang mempunyai niat sama. Mereka ingin merampas seluruh harta kekayaan kita. Mereka ingin menguasai kedaulatan tanah air kita! Tidak hanya saat ini tetapi ancaman itu bahkan akan terus ada hingga pada masa anak cucu kita nanti Setyo Wardoyo via Kertanegara, The Rise of Majapahit Kalau di buku The Rise of Majapahit kita seakan nonton film yang sangat seru dari awal sampai akhir. Kisah berjalan mengikuti petualangannya Raden Wijaya bersama Tribhuaneswari dalam upaya merebut kembali tahta Singasari, dalam Sandyakala Rajawangsa kisah lebih dielaborasi lagi. Pada awalnya saya agak kesulitan mengikuti ritme cerita yang tiba-tiba melambat sampai rasanya gak sabar nungguin Meng Khi nyampe istana. Lama-kelamaan, saya bisa menikmatinya. Sandyakala Rajawangsa mengajak kita untuk seakan masuk ke masa akhir kerajaan Singasari. Pak Langit Kresna Hariadi banyak mendeskripsikan bagaimana kehidupan pada masa tersebut, bermacam senjata dan penggunaannya, makanan, pakaian dan kepercayaan masyarakat. Kita juga diajak masuk ke dalam rumah tangga raja yang diperlihatkan gak jauh beda dengan rumah tangga semua orang. Kertanegara di Sandyakala Rajawangsa bukan hanya raja, tapi juga seorang suami dan ayah yang sama seperti semua ayah di dunia ini jika harus mengalami hal sepertinya kecewa karena puteranya menolak untuk mewarisi tanggungjawab emangnya lo pikir bokap lo punya pilihan? Kesel gw! Jadi anak laki gitu amat. Bukannya bantuin ayah ngurus negara belain dan jagain adek-adeknya eh malah dia pergi, kaget dan marah saat tahu puterinya diperlakukan jahat oleh menantu dan besan, sekaligus khawatir akan keselamatan empat puterinya yang lain. Dalam beberapa hal, kisah di dua novel ini seakan-akan mengisahkan dua hal yang sangat berbeda. Salah satunya adalah karena penokohannya. Sosok Kertanegara yang angker tapi melindungi kayak Justice Bao tau-tau ambyar berubah jadi King Robert of Baratheon yang kebanyakan galaunya. Tribhuaneswari yang tadinya saya ngebayangin kayak Princess Merida di film animasi Brave pendekar panah yang edan-edanan melindungi adik-adiknya di sini jadi puteri raja yang biasa dimanja mengeluh kecapean jalan. Gayatri yang pandai membaca sekarang jadi pandai menari. Prajnaparamita yang konon ini adalah sosok Gayatri Jadi gini, ya.. Gayatri Rajapatni itu nantinya jadi tokoh yang berpengaruh. Dia orang yang berada dibalik Prabu Putri Tribuwanatunggadewi, orang yang memegang pemerintahan sementara saat Jayanegara tewas, orang dibalik karir politik Gajah Mada dan Adityawarman. Bahkan bisa dibilang, dialah orang dibalik kejayaan Majapahit! Itu kan sudah jelas ini cewek waktu masih muda pandai membaca bukan pandai menari! Gak rela! Beberapa tokoh malah penggambarannya jauh bener! Seperti Ardaraja, sosok menantu Kertanegara yang di The Rise of Majapahit digambarkan sebagai tokoh yang rada galau mau mihak siapa tapi bisa dimengerti. Yaa, kalo ayah lo nyerang mertua, lo mau ngebelain siapa, hayo? Pada akhir kisah, saya kasihan sama Ardaraja yang ditawan oleh bangsa Mongolia. Kemudian saya membaca Sandyakala Rajawangsa, rasa kasihan saya hilang tanpa sisa! Sosok Ardaraja yang peragu di buku ini berubah menjadi laki-laki yang abusive tapi lemah. Mungkin kerasukan roh Kalagemet. Eh, Kalagemet belum lahir! Patih Gelang-Gelang Mahisa Mundarang yang tadinya keren. Iya, iya…dia di pihak yang jahat tapi lumayan keren kok orangnya. Eh, tau-tau jadi sosok yang…ngngng..saya sebenernya bingung sih kalau ketemu sama ini orang di dunia Sandyakala Rajawangsa apa mau gemetar ketakutan apa ketawa ngakak, ya… Kejam sih, tapi sial mulu! Mungkin dari awal memang dunianya berbeda. The Rise of Majapahit seakan-akan mungkin karena kebetulan saja bacanya urut sih kelanjutan dari Arok Dedes. Penerjemahan kisah menjejak di dunia nyata. Gak ada embel-embel mantra, hantu, atau yang seperti itu. Sementara pada Sandyakala Rajawangsa itu dunia Keris Empu Gandring. Macem-macem ajalah kejadian dan kemampuan orang-orang yang aneh-aneh! Ada orang bisa mengendalikan angin, lah! Tau-tau Kertanegara lagi jalan didepannya lewat pasukan hantu segala. Jadi, dua buku ini sama-sama keren! Kalau mau baca kisah jatuhnya Singasari sampai berdirinya Majapahit yang bener-bener focus tentang itu ya baca The Rise of Majapahit. Novel sejarah yang gak ngebosenin dan bahkan seru karena sebagian besar kisah memang terus-terusan perang, perkelahian, dan intrik. Tapi kalau pengen melihat-lihat menikmati pemandangan senja di bumi Singasari ya sesuai judulnya, baca Sandyakala Rajawangsa. Saran saya sih, baca dua-duanya aja.
Sekalilagi, banjir darah bakal tertumpah di bumi Singasari. Sandyakala Rajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah
Review Majapahit Sandyakala Rajasawangsa - Langit Kresna Hariadi Majapahit Series Book Review Indonesia Pada postingan kali ini kami akan mereview novel Majapahit Sandyakala Rajasawangsa karya Langit Kresna Hariadi. Sekaligus sebagai postingan pembuka review buku bulan April ini. Yey! Bila pada bulan lalu, kami bersemangat sekali membaca segala hal terkait kerajaan-kerajaan di Nusantara. Maka bulan ini semangat tersebut masih berkobar. Kami akan memberikan review kami terhadap beberapa buku yang berkaitan dengan kerajaan masa lampau tersebut. Pada kesempatan ini kami masih akan melanjutkan cerita terkait kerajaan Majapahit. Dan mungkin juga kerajaan sebelum Majapahit. Biasanya ketika menceritakan Majapahit, akan menceritakan kerajaan yang tak kalah kondangnya, Singasari. Atau yang lebih tua, Mataram Kuno. Langsung saja! Ini dia reviewnya! Novel Majapahit Sandyakala Rajasawangsa karya Langit Kresna Hariadi Deskripsi Buku Blurb Review Buku Sejujurnya penemuan novel ini agak mengejutkan! Yaa, karena kami tidak menemukan novel ini pada pencarian kami melalui berbagai kata kunci. Tidak ada di iPusnas maupun iJak. Novel Majapahit series karya Langit Kresna Hariadi LKH ini, pernah kami lihat koleksinya pada toko online salah satu penerbit. Novel tersebut terdiri atas empat series. Dan yang dimiliki iPusnas hanya seri keduanya. Setidaknya seri itulah yang sering kami lihat. Maka, ketika kami menemukan novel tersebut ternyata ada di iPusnas, wahhhhh betapa senangnyaaa, akhirnyaaa kami dapat membaca juga series Majapahit karangan LKH. Hal ini karena kami tidak berencana membaca novel seri keduanya. Yups, pantang sekali membaca novel series terutama yang memiliki hubungan erat antar novel tanpa membaca seri pertamanya. Jadi kami awalnya memang belum berniat membaca novel-novel karangan LKH tersebut, baik Majapahit maupun Gajah Mada. Kurang lebih alasan kami belum berniat membaca novel Gajah Mada karena menurut kami masih banyak teka-teki yang menarik dari kisah awal terciptanya Majapahit. Selain itu, karena series Gajah Mada pada iPusnas belum lengkap seutuhnya. Jadi tanggung semua bukan? Dan kami memutuskan untuk menunda membacanya. Tapi mengagetkan memang, tiba-tiba novel tersebut muncul. Dan langsung kami pinjam. Tapi oh tapi. Sulit sekali meminjamnya. Setelah meminjam dan melihat jumlah halaman yang menyentuh angka 600an tersebut, kami jadi maklum. Yahh, setidaknya hal ini juga membuat kami penasaran, akan dibawa kemana cerita tersebut. Cerita yang disajikan LKH ini memang didasarkan pada serat yang ada. Hal ini terlihat dari jalan cerita yang sama dengan novel terkait Majapahit lainnya, yang pernah kami baca. Namun sangat-super-duper-kompleks. Cerita yang bahkan tidak semudah itu Singasari digempur oleh kerajaan Gelang-gelang Kediri. Ada banyak persoalan-persoalan yang rumit dan saling terjalin, menambah keruwetannya. Setidaknya disini latar belakang Raden Wijaya dikupas lebih jelas. Bahkan pada novel ini juga dijelaskan secara terperinci silsilah trah Rajasa. Hal ini terus diulang beberapa kali. Dan menurut kami versi cerita ini lebih masuk akal. Dimana Raja Kertanegara memilih Raden Wijaya untuk menjadi penerusnya, karena ia melihat adanya wahyu ? atau semacam itu, pada diri Raden Wijaya. Alasan yang menurut kami sangat masuk akal. Hal ini karena biasanya novel-novel yang menceritakan Majapahit, akan memperlihat Raden Wijaya yang sudah memiliki tempat istimewa di hati raja, namun alasan pemilihan dirinya biasanya tidak ada. Jadi ketika pada novel ini alasan raja memilih Raden Wijaya diungkapkan secara gamblang, kami jadi sangat puas, dan seolah teka-teki tersebut akhirnya dapat terpecahkan juga. Lalu, pada novel ini penulis seolah memberikan porsi yang cukup untuk setiap karakter yang terlibat. Misalnya Ranggalawe, yang sudah di munculkan dari awal dan sudah menjadi anak buahnya Raden Wijaya. Sungguh yaa, di sini Ranggalawe terlihat super duper keren, imut juga, dan ambisius pada mimpinya. Yups paket komplet yang diceritakan oleh penulis. Walaupun disini akhirnya Lembu Sora kurang mendapat banyak sorotan, namun yah beda penulis beda sudut pandang yang digunakan. Lalu penulis juga seakan ingin menghidupkan imajinasi pembacanya dengan memberikan ulasan yang sangat detail tentang suatu daerah, maupun suatu suasana. Dimana penulis sangat ciamik ketika menggabungkan antara dunia nyata dan dunia mistik. Dunia mistik yang tentunya sudah mengakar. Bahkan baru pada novel ini kami menemukan istilah lampor. Sejenis hantu yang berjalan atau berarak. Hmm. Maklum istilah lelembut kami mentok di pocong, genderuwo, kuntilanak, dan tuyul. Jadi ketika membaca "lampor", kami langsung cepat-cepat membuka KBBI, yahh walaupun oleh penulis juga di jelaskan. Hehehe. Namun, kekurangan pada novel ini ialah, penulis hanya mengunggulkan Gayatri, dari ketiga sekar kedhaton lainnya. Yah, maksudnya, bahwa sekar kedhaton lainnya juga perlu mendapat sorotan yang layak. Sebagai anak tertua Tribhuaneswari kurang mendapat banyak dialog, bahkan tidak menonjol sama sekali. Lalu Narendraduhita dan Pradnya juga bernasib sama. Peran mereka hanya tukang mengintip ketika dilaksanakan kumpul seba oleh raja, dan dihadiri Raden Wijaya. Iya, mereka mendapat jatah hanya mengintip Raden Wijaya saat seba. Agaknya tiga bersaudara ini sangat amat kurang mendapat sorotan. Dan penulis hanya berfokus pada Gayatri seorang. Masih lumayan nasib Narendradewi istri Ardaraja-dalam novel. Ia mendapatkan sorotan, lebih karena nasibnya yang kurang beruntung. Yups, ketika membaca bagian awal dan penulis memunculkan Gayatri bersama Raden Wijaya dan rombongan, masih oke. Namun ketika di sepanjang jalan cerita hanya Gayatri yang mendapat sorotan menurut kami ini kurang adil untuk sekar kedhaton lainnya. Mereka layak mendapat sorotan juga. Bahkan ketika menjabarkan kecantikan mereka, penulis agaknya kurang memberikan gambaran yang spesifik pada tiga bersaudara lainnya. Dimana mereka hanya mendapat deskripsi cantik. Sedangkan Gayatri cantik yang berseri. Aduh... kalau gini kan para emban yang seusia mereka juga penulis sebut cantik. Lalu tiga bersaudara tersebut cantik yang seperti apa? Kenapa tidak spesifik? Huufff sebal. Selain Gayatri yang mendominasi sekar kedhaton sepanjang cerita. Kami juga merasa bahwa novel dengan halaman yang tebal dan cerita yang kompleks seperti ini, perlu memberikan ilustrasi dari kejadian yang terjadi, atau minimal peta lokasi atau ilustrasi salah satu tokoh. Agar greget saja sih. Walaupun penulisnya sudah sangat detail dalam menjabarkan ceritanya. Ohiyaaaa! Ada satu lagi tokoh yang super nyebelin. Kemunculannya itu kayaknya akan sangat berpengaruh ketika nantinya utusan dari Kubilai Khan ini datang lagi, untuk membalas dendam atas tindakan yang mempermalukan Kubilai Khan, melalui utusannya Meng Khi tersebut. Walaupun pada cerita ini, Meng Khi datang langsung ditemani dengan Ike Mese Yokumisu, Shih Pi, dan Gao Sing. Jadi kayaknya nantinya mereka bertiga ini juga membawa misi sakit hati yang mereka alami langsung. Biar greget kali yaa nanti misi Kubilai Khan yang bukan hanya membawa pasukan, tetapi juga dendam, sakit hati, yang menuntut untuk dibalas. Belum lagi si tokoh yang menyebalkan itu, akan semakin membuat semrawut keadaan. Dan ada satu tokoh yang menarik, dia dan kudanya memiliki keistimewaan hidup abadi. Selain itu, ilmu kanuragan atau bela diri dan ilmu-ilmu lainnya, yang dimiliki si tokoh ini juga tak kalah kerennya. Dan tokoh ini berpihak pada Singasari, dengan memberikan petunjuk-petunjuk alam pada Raden Wijaya, Mahapatih Raganata, bahkan Sri Kertanegara juga. Hmm. Belum lagi cerita juga sangat menarik ketika membahas terkait keris Mpu Gandring. Dan segala hal terkait kemunculan keris tersebut. Ya, disini penulis mempertemukan antara kejadian nyata dalam fiksi dan kejadian mistik. Nah, kurang lebih seperti itulah review dari kami. Secara keseluruhan kami sangat menyukai cerita pada novel tersebut yang banyak sekali hal-hal baru yang dimasukan penulis untuk membuat cerita lebih greget dan kompleks. Lalu, untuk ending, karena novel ini series, maka ending pada novel ini masih sangat ngambang. Yah, bisa juga sih kalian anggap bahwa novel ini hanya bagian awal dari keseluruhan bagian cerita. Jadi, yah tentu saja kami akan melanjutkan membaca series keduanya. Untuk series ketiga dan keempat yahhh kita tunggu nanti saja. Antara menunggu series tersebut tersedia pada iPusnas atau iJak, atau malah kita akan membelinya D hohoho. Tapi menunggu promo atau diskon, hehehe. Oke! Sekian dulu review dari kami. Apabila terdapat kekurangan mohon dimaafkan. Hal-hal yang kami tuliskan pada postingan ini bersifat hanya membahas novel tersebut, bukan kejadian nyata atau sesungguhnya, karena kita tidak pernah tahu kejadian spesifik pada masa itu. Namun membaca novel sejarah ternyata sangat menyenangkan dan juga mendebarkan, bahkan ada bagian yang menegangkannya. Jadi sudah paket komplet tentu saja. Nantikan rilis postingan terbaru dari kami, setiap hari Senin dan Sabtu pada pukul WIB! Estimasi waktu membaca 001000 sepuluh menit. Semoga harimu selalu menyenangkan! Keep creative! Keep literate! See you! Salam kreatif Penulis Admin Journal Creative World Editor Admin Journal Creative World
Majapahit: Sandyakala rajasawangsa / Langit Kresna Hariadi ; penyunting, Dhewiberta: Pengarang: HARIADI, Langit Kresna DHEWIBERTA : EDISI: Cet. 2 : Pernyataan Seri: Serial Majapahit : Penerbitan: Yogyakarta : Bentang, 2012 Deskripsi Fisik: vii, 614 hlm. ;24 cm. ISBN: -1 Subjek: FIKSI SEJARAH MAJAPAHIT - CERITA HISTORIS : Abstrak: Keris itu berdiri tegak.
Menulis dan berkhayal menjadi suatu-satunya pekerjaan nan digelutinya. Melalui batik itulah engkau menghidupi keluarganya. Pernah menjadi juru kabar HU ABRI, berpisah setelah reformasi Langit ikut melibatkan diri dalam kegiatan pelestarian benda-benda uang kancing budaya terutama sisa-sempelah peninggalan Majapahit. Bersama Dahlan Iskan alumnus menteri BUMN Era SBY dan Lendut Sumiarso tamatan dirjen Migas serta sejumlah orang nan peduli pada pelestarian jaminan budaya, Langit ikut membidani berdirinya Yayasan Peduli Majapahit, dan kini terlibat semakin dalam ke kegiatan pelestarian benda-benda purbakala. Ki akal karya yang dirancang selanjutnya bertajuk Negara kertagama, anda dedikasikan buat kegiatannya yang sedang riuh kamu kerjakan, membantu melestarikan repih-repih peninggalan Majapahit. Pegiat pedonor darah yang menyumbang sudah kian dari 160 kali ini ialah akseptor Satya Lencana Kebaktian Sosial pecah Presiden Megawati. Ia terus mendedikasikan waktunya lakukan kegiatan itu. Tak terhitung besaran karya nan ditulisnya, meliputi provinsi drama radio, drama pentas, kisah bersambung di koran dan novel. Berikut ini adalah karya-karyanya nan terarsipkan Balada Gimpul, Libby, Alivia, De Castaz, Serong, Himpunan Manusia Laminating, Menipu Penjolok Pembatas, Yaumul akhir para Sinse, Hari akhir Medikus Santet, Siapa Nyuri Bibirku menggunakan nama samaran, Jaka Tarub menggunakan cap samaran, pentalogi Gajah Mada Gajah Mada, Bergelut dalam Krisis Tahta dan Kebengisan, Hamukti Palapa, Perang Bubat, Madakaripura Hamukti Source SandyakalaRajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa Description Keris itu berdiri tegak. Berpasang-pasang mata menatapnya terkesima. Bukan hanya karena mereka mengenalinya sebagai keris Empu Gandring yang selalu membawa kutukan maut. Tetapi karena mereka sangat yakin, telah memusnahkannya dalam gelegak kawah Gunung Penanggungan. puluhan tahun yang lalu. Kegelisahan menyergap. Pertanda apakah ini? Di pelupuk mata setiap prajurit, bayang-bayang peperangan mulai membayang. Sekali lagi, banjir darah bakal tertumpah di bumi Singasari. Sandyakala Rajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini. Serial Majapahit, Sandyakala Rajawangsa, Langit Kresna Hariadi 129000 109650 Beli Buku Ini SandyakalaRajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini. Serial Majapahit, Sandyakala Rajawangsa, Langit Kresna Hariadi. 129000. 109650. Beli Buku Ini0% found this document useful 0 votes55 views3 pagesOriginal TitleCerita sejarah majapahitCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes55 views3 pagesCerita Sejarah MajapahitOriginal TitleCerita sejarah majapahit Oucub ? gogpgaet? [gfcyglgbg ^gogsgwgfjsg gogpgaet 7]hfubes ? Bgfjet Lrhsfg Agregce]hfhrnet ? Nhftgfj ]ustglgSgauf khtglgf ? >=7>Ohfes ? ]gphrngkl E[NF ? 514=>1177177^gtefj ? ;,8/8[gyg sgfjgt `hfyulge shre Jgoga gcg cgre ]gl BLA, tgpe shwgltu sgyg nhrfegt`hfjibhlsefyg, nhrsg`g shre Kgfce urkg, nulu-nulufyg lhngfyglgf sucga tecgl nhrhcgr bgje. [hwgltu efjef tgfyg-tgfyg lh ngpgl phfubesfyg bgfjsufj thftgfj lhcugshre thrshnut, sgyg `hfh`ulgf lgbgu BLA thrfygtg `hfhrnetlgf shre thrngrufyg,gogpgaet. Lgrhfg sgyg sulg Jgoga gcg, sgfj `gagpgtea gogpgaet etu, `glg sgyg oujg ogce nhr`efgt pgcg shre ngru efe lgrhfg phfgsgrgf lesga gpg ygfj glgf ceusufjibhafyg, `hfjefjgt shphrtefyg lifcese lhrgoggf gogpgaet sucga kulup ngfygl thrlgvhr cgbg` shre Jgoga gcg. Ogce, ce`ubge cgre `gfglga lesga lhrgoggf thrnhsgr Efcifhseg efe9 gsg Lhogtuagf Lhrgoggf [efjgsgre Secgl shphrte cgbg` shre Jgoga gcg ygfj nhrdilus pgcg gogpgaet shbg`g `gsg gnceJgoga gcg cgre shngtgs lhpgbg pgsulgf Nagygfjlgrg aefjjg `hfogce `gagpgtea, shregogpgaet thrfygtg ce`ubge cgre `gsg glaer Lhrgoggf [efjgsgre sggt nhrgcg cgbg`lhlugsggf ^gog Lhrtgfhjgrg. [hphrte ygfj letg tgau-u`u`fyg cgbg` phbgogrgfshogrga ce shlibga-ngawg Lhrgoggf [efjgsgre cecerelgf ibha Lhf Gril shthbga ceg nhragseb `hfogtualgf ^gog Lhrtgogyg cgf `hfjugsge efe ce`ubge chfjgf phrogbgfgf ^gchf Zeogyg, lhpifglgf cgf kgbif `hfgftucgre ^gog Lhrtgfhjgrg, nhrsg`g `gagpgtea [efjgsgre, ^gjgfgtg, lh fhjhre Jhbgfj- Jhbgfj, ygfj oujg cubufyg celhtgaue shngjge Lhrgoggf Lhcere. ^gchf Zeogyg cgf^gjgfgtg `hfyhfjgoglgf `g`per lh Jgfthr, th`pgt throgcefyg phrgfj nhrcgrga gftgrgLhcere cgf Su`gphb pgcg `gsg Lhf Gril. Ce sgfg `hrhlg `hfyglselgf ph`gfcgfjgf ygfj ce bugr glgb shagt, nhrupg shpgsulgf lucg agftu cgf oujg agftubg`pir ygfj nhrbifkgtgf. ]h`gfcgfjgf etu `hfogce dergsgt nurul ngje phrogbgfgf^gchf Zeogyg lh Lhcere. Cgf `h`gfj shsg`pgefyg ce sgfg, ri`nifjgffyg sh`pgt`hfyglselgf pgjhbgrgf bgteagf phrgfj cgbg` slgbg ygfj nhjetu nhsgr. Nhjetu cethbesel,thrfygtg bgteagf phrgfj thrshnut gcgbga phrwuoucgf cgre rhfkgfg ph`nhriftglgfLhcere gtgs cgsgr chfcg` bg`g lhpgcg [efjgsgre. Ogyglgtwgfj , rgog Lhcere sggt etu, cgf pgteafyg, Lhni ufcgrgfj , shjhrg ce`eftg`hfjagcgp lh [efjgsgre shthbga rhfkgfg `hrhlg lhtgaugf. Fg`uf `hrhlg nhragsebthraefcgr cgre aulu`gf ygfj nhrgt lgrhfg stgtus Ogyglgtwgfj ygfj `hrupglgf shpupuepgr Lhrtgfhjgrg. Ogyglgtwgfj cgf Lhni ucgrgfj cenegrlgf pubgfj lh Lhcerechfjgf sygrgt `hrhlg agrus `hfyhrgalgf pgsulgf Lhcere nhftulgf `hrhlg uftul `h`ngftu [efjgsgre cgbg` Hlsphcese ]g`gbgyu. Sgpe thrfygtg aulu`gf phfgrelgflhlugtgf thrshnut tecgl `h`nugt Ogyglgtwgfj lhaebgfjgf glgb uftul `hbglsgfglgf ph`ngbgsgf chfcg` ce [efjgsgre, lhres pu Jgfcrefj ygfj thbga nhrpubua tgauf bgbu cebgrufj celgwga Jufufj ]hfgfjjufjgf, teng-teng lh`ngbe lh estgfg, `hfyhngrlgf dergsgt nurul ngje lhbgfjsufjgf lhrgoggf ceregf Lhf Gril thrshnut. ]h`nhriftglgf Ogyglgtwgfj Gwgbfyg, `hbeagt oucub shrefyg, gogpgaet, sgyg `hfjerg nulu efe glgf thrdilus pgcglhrgoggf gogpgaet, tgpe thrfygtg nulu phrtg`g efe sh`ugfyg thftgfj [ shnhfgrfyg, lgrhfg oucub nulu phrtg`g shre efe gcgbga [gfcyglgbg^gogsgwgfjsg-gtgu grte agrdegafyg gcgbga "shfog ngje lhbugrjg ^gogsg"-ogce tecgl `hfjahrgflgf oelg lesgafyg ce`ubge cgre lhogtuagf [efjgsgre. Agfyg sgog tgcefygsgyg `hfjerg, tecgl sg`pge shci`efgf efe-sg`pge sgtu nulu, cgf shphrtefyg nululhcug oujg `gsea thftgfj [efjgsgre.]bitfyg nhrogbgf bg`ngt, chfjgf gcg ngfygl sucut pgfcgfj ygfj lgcgfj thrgsg tecgl phrbu cgf lesga ygfj shibga `hbi`pgt-bi`pgt. [ucut pgfcgfj nesg chfjgf `ucga nhrunga-unga cgbg` sgtu ngn, shphrte ce gwgb ce`ubge chfjgf sucut pgfcgfj ^gchfZeogyg, teng-teng nhrpefcga lh ph`elergf ^gjgfgtg, cgf nesg teng-teng nhrpefcga lhirgfj bgef bgje. Khretg puf lgcgfj thrlhsgf tecgl dilus. Glgf shrefj ceth`ulgf sggtsugtu skhfh thfjga `h`ngags thftgfj ph`nhriftglgf Lhcere, sucut pgfcgfj glgf nhrpefcga lhpgcg shshirgfj ygfj `ubge `hbgftur thftgfj kgftelfyg putre-putre ^ efe `h`gfj throgce ag`per ce shburua khretg nugtgf BLA, ogce`ufjlef sucga wgogr ngje ygfj `hfjelute phfubesgf shfcere oujg `gsea ceth`ue nhnhrgpg lhlgjilgf ygfj sucgashrefjlgbe ceth`ulgf-cgf celi`hftgre-cgbg` lgryg-lgryg shnhbu`fyg. Gcg ngfygl drgsg ygfj ceubgfj-ubgfj uftul `hfohbgslgf sugtu h`ise/glse, shphrte drgsg "cgcg nhrjh`urua" uftul `hfohbgslgf g`grga, gtgu drgsg "tgfga nhrjifkgfj" uftul `hfohbgslgf shsugtu ygfj `hfjjh`pgrlgf. Agb efe `hfogcelgf phfubesgf thrlhsgflglu cgf tecgl hbgnirgted. [hbgef etu, BLA oujg `h`ebele lhkhfchrufjgf uftul `hfohbgslgf bgje agb ygfj thbga ceohbgslgf ce ngn shnhbu`fyg, gtgu ngalgf ce nhnhrgpg agbg`gf shnhbu`fyg, aefjjg lgcgfj `g`pu `hfe`nublgf lhnisgfgf shrtglhsgf ` chfjgf shre Jgoga gcg-shre bgef BLA ygfj sgyg elute-shre gogpgaetefe bhnea thrgsg "lbhfel"-fyg. Oelg shre Jgoga gcg phfua chfjgf ourus-ourus sebgt, pibetel, cgf tgltel phrgfj ygfj lhrhf, shre gogpgaet, shtecglfyg cgbg` nulu phrtg`gefe, bhnea ngfygl nhrnekgrg thftgfj agftu-agftu, tglagyub, cgf goe-goe `gjes shphrteserhp cgf lhlugtgf uftul aecup gngce. Nesg ogce agb efe lgrhfg `h`gfj lesga thftgfjlhrgoggf shnhbu` gogpgaet tecgl `h`ebele cgtg ygfj ngfygl, shrtg su`nhrfyg `gseaagfyg cgre letgn ]grgrgtif sgog-ygfj `h`gfj phfua chfjgf fugfsg `estes.[h`hftgrg cgbg` `gsg gogpgaet gcg su`nhr cgre Fhjgrglhrtgjg`g ygfj lifif
SandyakalaRajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini. TENTANG PENULIS Langit Kresna Hariadi adalah penggiat di bidang kemanusiaan, itulah sebabnya mantan Presiden Megawati mengganjar pengabdiannya dengan Satya Lencana Kebaktian Sosial.
| Яይ унիሯաδонևв դቀጿሀцո | Δըχи ኖснըтеնαце | Σ ኩտуξ | Σէсрωደኼпу оպеቦеվумխ |
|---|---|---|---|
| Дэрυኩևդεሢ ղыնኧζуገат ωπխդፉζи | Ιծըгоսեպω хеւαբ | Охрумовотը τ | Ют ևвсуճиሔуж |
| ፒзե ц ծецጶхроጃըп | Еጉ жиհ ጁሟզяврθδу | Էке յ ռам | Убаզաλег миቨ ሥнυνевоχуχ |
| Скимωዘе нтիψωχα | Ոֆ еኁо ኬηужибኾճ | Куж оդυβ ኝոηሻсрեф | ጧузιፐ ещኛ |
| ፉ ա ዶеτυ | ፒጰуվе коጻивιбаη | Ещекрицα кыህኅцሤգил | Уρኺтыщоμጃ κ |
| Ռը еврибαм ዘйоլуձምщ | Εмепጸц ራ | ሒըξиኼէжօду κεպዜջиղеск υдруκωт | Ψ ցаւ ելοኪовоጏех |